Pedukuhan Gambar sendiri terdiri dari dua blok, di antaranya blok Tamansari dan blok Jatisari. Blok Tamansari dibuka oleh orang yang bernama Djosari, sedangkan blok Jatisari dibuka oleh orang yang bernama Nojo Semitro. Kira-kira pada tahun 1825 akhirnya kedua orang tersebut menjabat kepala blok dalam wilayah pembukaannya. Adapun pada waktu itu Tamansari terbawah dalam kelurahan Wates, sekarang Domasan dan blok Jatisari terbawah kelurahan Sumberingin.
Di desa Kembangan ada sebidang tanah wingit yang tidak dibuka, lantas diserahkan kepada Djosari kepala blok Tamansari, Djosari diperbolehkan membuka tanah tersebut dan akhirnya dijadikan bengkoknya pamong desa blok Tamansari. Inilah riwayat, maka tanah bengkok kelurahan Mirigambar terpisah, tidak bergandengan dengan desa Mirigambar.
Pada suatu waktu kepala blok Jatisari melarikan diri akibat tekanan dari pemerintah Belanda, kira-kira pada zaman cultuwstelsel, lantas tidak ada seorang pun yang mau dijadikan kepala blok. Demang Wates mempunyai seorang anak laki-laki yang suka menjadi kepala blok Jatisari, adapun soal bengkoknya cukup dari desa Wates asalkan blok Jatisari mau terbawah desa Wates. Akhirnya blok Jatisari memisahkan diri dari kelurahan Sumberingin, menggabungkan ke kelurahan Wates.
Setelah kepala blok Jatisari meninggal dunia, bangkok yang asal dari kelurahan Wates diminta kembali oleh kepala desa Wates, tetapi penduduk Jatisari tidak mengizinkan, akhirnya lantas tempatnya saja ditukar desa Wates yang bergandengan dengan bengkok Tamansari yang asal dari desa Kembangan. Blok Tamansari tidak mempunyai minat membikin kepala blok lagi, lantas menggabungkan diri ke blok Tamansari menjadi satu pedukuhan yang terbawah kelurahan Wates. Kira-kira pada tahun 1870, padukuhan Tamansari dijadikan kelurahan dengan kepala desanya bergelar Demang mempunyai kewajiban memimpin desa Sanan desa Kembangan dan desa Sambidoplang.
Ketika Djosari berladang di tegal nya menemui suatu tanah putukan, lama kelamaan putukan tersebut kelihatan ada batu-batu merah yang bergambar, setelah dilaporkan kepada atasan lantas digali, maka ternyata bahwa putukan tersebut gambar-gambar relief candi. Mulai dari itu desa Tamansari beralih nama menjadi Desa Gambar, adapun candi tersebut lantas dijadikan punden oleh penduduk kelurahan Gambar.
Riwayat Cikal Bakal Pedukuhan Miridudo
Menurut keterangan dari tetua desa, yang membuka padukuhan Miridudo yaitu orang yang bernama Karto Djopo, kira-kira pada tahun 1830. pada mulanya pedukuhan miridudo masuk wilayah kelurahan Domasan yang sekarang Wates. Adapun asal-usulnya nama, ketika Miridudo masih merupakan hutan, ada sebatang pohon Kemiri yang amat besar, pohon kemiri tersebut amat ajaib karena buahnya berbeda dengan kemiri lainnya. Satu buah kemiri hanya berisi satu biji, menjadi duda, hingga kemiri tersebut menjadi pilihannya para pengadu kemiri yang jauh, konon ada yang dari Trenggalek datang ke Miridudo hanya perlu mencari buah kemiri ajaib tersebut. Mulai saat itu pedukuhan lantas disebut Miridudo.
Adapun riwayat punden, hanya ada sebuah batu di tepi sungai yang dianggap keramat oleh penduduk, tatkala pendukuhan Miridudo terkena wabah penyakit sehingga banyak penduduk yang mati, ada seorang tabib yang meramalkan, jika punden tidak dipindahkan tidak akan sembuh. Hingga akhirnya punden tersebut dipindahkan ke suatu kuburan di bawah pohon jambu. Adapun riwayat kubur tersebut, ada seorang penduduk yang melahirkan anak bungsu lantas meninggal. mayat anak itu lantas dikuburkan di bawahnya pohon jambu dengan diberi nama Mas Gono, pohon jambu masih hidup hingga sekarang (tahun 1955).
Seperti halnya dengan pedukuhan gambar, kira-kira pada tahun 1870 pedukuhan Miridudo melepaskan diri dari kelurahan Domasan. Didirikan kelurahan sendiri dengan kepala desanya bergelar Demang, memimpin desa Kambingan dan Bandil. Kademangan Gambar dan Miridudo berlaku sampai kira-kira tahun 1906.
Pada tahun 1919 desa Gambar dan Miridudo digabungkan menjadi satu, nama kelurahan diganti Mirigambar. Dengan perjanjian desa yang tidak ketempatan kepala desa, diberi kepala pedukuhan atau biasa disebut Uceng, dan selanjutnya Desa Mirigambar dibagi menjadi 2 dusun yaitu :
- Dusun Gambar
- Dusun Miridudo
Setelah Indonesia merdeka, desa Mirigambar telah mengalami beberapa masa kepemimpinan, yaitu:
- Ponco Kromo 1907 – 1921
- Wasito Darmo 1921 – 1922
- Sonokariyo 1922 – 1923
- Kriodarmo 1923 – 1926
- Sokarno 1926 – 1947
- Kasanredjo 1947 – 1968
- Imam Mujono 1968 – 1990
- Winardi KM 1990 – 1998
- Puguh Setyan D 1998 – 2007
- Kristina Damayanti, A.Ma 2007 – 2013
- Nasrudin 2013 – 2019
- Nasrudin 2019 – sekarang